geometry of death II by deborah d. lattimore

geometry of death II by deborah d. lattimore

Selamat hari senin, selamat awal pekan. Di awal pekan ini, ada dua hal yang bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

Well, Sabtu – Minggu kemarin bisa jadi akhir pekan yang kurang biasa untuk anda yang berlangganan Feed Bloggingly. Untuk pertama kalinya dalam tahun ini, kami miss dalam mengupdate Bloggingly.

Alasannya? Sederhana: Nenek dari pihak ayah, ibunda ayah saya wafat sabtu dini hari kemarin.

Semoga Allah menerima segala amal baiknya dan mengampuni kesalahan – kesalahannya.

Sebenarnya saya sudah menset bahwa bloggingly bukan tempat untuk menyampaikan hal – hal pribadi. Namun saya setuju mengenai beberapa pendapat yang mengatakan bahwa blog bukanlah blog jika tidak melibatkan pengalaman personal. Besides, ada beberapa pelajaran yang saya dapat dari peristiwa ini dan saya rasa hal tersebut akan berguna untuk audience bloggingly.

Sabtu dini hari lalu, saya dan keluarga meluncur ke kampung halaman kami di Cijulang – Pangandaran setelah mendengar kabar kewafatan nenek kami. Pukul 9, prosesi pemakaman dilaksanakan. Beres pemakaman, tebak hal apa yang terlintas di pikiran saya?

Apa yang akan terjadi jika saya meninggal sekarang?

Saya bukan cucu yang ideal. Kedekatan emosional yang saya miliki dengan nenek saya tidak terlalu dalam. Yep, saya rasa dengan rasio pertemuan yang hanya setahun sekali setiap mudik, akan agak sulit membangun kedekatan yang intens.

Semuanya dikarenakan satu hal: Hubungan emosional yang tidak mendalam.

Otak saya mensimulasikan satu hal: Jika suatu saat saya meninggal nanti, siapa yang akan merasa kehilangan atas kepergian saya? Kepada siapa saja saya membangun kedekatan emosional?

Menghubungkan peristiwa ini dalam kegiatan blogging, mari kita coba ambil satu contoh ekstrim. Katakanlah pria yang disebut – sebut sebagai Master Adsense Indonesia dipanggil yang Kuasa (Punten saya jadikan contoh Mas. Contoh harus orang yang baik kan?). Akan banyakkah yang merasa kehilangan? Di luar keluarganya, mereka – mereka yang belajar banyak dengan beliau pasti merasa kehilangan yang amat sangat. Jasa beliau banyak: Men-share ilmunya kepada orang lain. Mereka yang mendapatkan sesuatu dari mengaplikasikan ilmu beliau pasti merasa kehilangan. Seorang bijak pernah bilang: umur fisik itu terbatas, jadi berencanalah untuk hidup panjang melalui kebaikan yang anda berikan untuk orang lain.

Bukankah begitu?

Beberapa dari anda mungkin masih merasa bahwa blogging hanya merupakan satu episode kecil dari kehidupan anda di dunia ini, sementara beberapa dari kita mungkin memiliki harapan besar kepadanya. Tidak ada masalah dengan hal itu, namun saya mempercayai satu hal yang menurut saya sangat indah:

Sekecil apapun suatu hal, jika dilakukan dengan baik akan mendatangkan kebaikan.

Mereka bertugas menyapu jalan, dalam konteks sosial kita mungkin tidak diposisikan tinggi. Namun mereka yang menyapu jalan dengan ikhlas dan niat yang baik tetap memiliki posisi yang baik menurut Yang Maha Baik.

Sekarang lihat diri kita, blogger.

Blog merupakan alat. Entah besar atau kecil anda mengaggap blog, namun kenyataannya blog bisa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan kebaikan. Kebaikan bisa berupa banyak hal: Pengalaman baik yang membantu orang memutuskan sesuatu? Panduan mengenai cara melakukan sesuatu? Pandangan anda akan sesuatu yang menginspirasi orang lain? Tutorial yang memudahkan orang lain dalam melakukan sesuatu? Bisa jadi berbagai macam hal.

Pertanyaannya adalah:

Sudahkan anda menggunakan blog sebagai media menyampaikan kebaikan? Agar jika suatu saat jika anda dipanggil oleh Yang Kuasa, setidaknya orang lain pantas untuk mengenang anda karena anda “memberikan” sesuatu melalui blog anda. Karena anda membantu orang lain melakukan sesuatu karena pandangan yang anda sampaikan di blog anda.

Sudahkah?

Selamat Hari Senin, kawan.

Enjoy!

P.S.

  1. Sebenarnya blogging dan pemanfaatan blog hanya satu lingkup dari pertanyaan yang muncul di otak saya. Pertanyaan asli yang muncul di otak saya adalah: Jika suatu saat nanti saya dipanggil menghadap yang kuasa, hal apa saja yang sudah saya lakukan agar orang lain pantas mengengan saya? Karena bloggingly membahas tentang blogging, maka saya hubungkan hal tema tersebut dengan blogging.
  2. Anyway, meskipun saya menyebutkan diatas bahwa kedekatan emosional saya dengan Nenek saya tidak terlalu intens, hal tersebut bukannya berarti beliau tidak berjasa atas hidup saya. Beliau SANGAT BERJASA ATAS HIDUP SAYA, note that. Hanya saja, karena kedekatan yang kurang intens, ingatan saya akan hal tersebut jadi tidak terlalu clear. Implikasinya ya tadi itu.
  3. Semoga Beliau yang meninggalkan kita diterima disisi-Nya. Amin

Dapatkan update harian bloggingly GRATIS di RSS Reader anda! Subscribe sekarang RSS FEED BLOGGINGLY !

Apa itu RSS? Kenali RSS di halaman ini