May 3, 2010
Menelaah Trend Lifestreaming
oleh Fikri

Image credit @toponereport.com
Seorang netizen bisa jadi menulis blog di WordPress, membuat tumbleblog berisi catatan-catatan kecil/foto di posterous, dan bercengkrama secara realtime di twitter. Di waktu senggangnya, ia juga mengunggah slide presentasi dari catatan kuliah / konsep-konsep tempat kerjanya di slideshare, mengunggah foto kesehariannya di flickr dan menyimpan artikel-artikel keren yang ditemukannya di delicious.
Konten yang diunggah ke web oleh netizen menyebar di penjuru-penjuru layanan web karena keterbatasan satu layanan web yang hanya menggarap satu bidang tertentu. Bagaimana dengan menyatukan / mengagregasikan kesemuanya menjadi satu? Manifestasi akan kebutuhan inilah yang kemudian akan dikenal sebagai lifestreaming.
Apa itu Lifestreaming?
Secara harafiah, lifestreaming tersusun dari dua kata:
life = kehidupan
streaming = aliran
lifestreaming = aliran yang berisi kehidupan
Secara lebih spesifik, seperti yang dikutip oleh ReadWriteWeb dari Paul McFedries di WordSpy (The Word Lover’s guide to new words), lifestreaming didefinisikan sebagai:
An online record of a person’s daily activities, either via direct video feed or via aggregating the person’s online content such as blog posts, social network updates, and online photos.
Rekaman daring aktifitas keseharian seseorang, baik melalui pengumpan video langsung atau mengagregasikan konten online seseorang seperti blog post, status jejaring sosial atau foto online.
Sementara itu, Lifestreaming didefinisikan di wikipedia sebagai:
a time-ordered stream of documents that functions as a diary of your electronic life; every document you create and every document other people send you is stored in your lifestream.
Lifestreams are also referred to as social activity streams or social streams.
Aliran dokumen yang disusun berdasarkan kronologis waktu yang berfungsi sebagai buku harian dari aktifitas elektronik dari setiap dokumen yang anda ciptakan dan setiap dokumen yang orang lain kirim untuk anda untuk disimpan di lifestream anda.
Lifestream juga mengacu kepada aliran aktifitas sosial atau aliran sosial.
Dari dua definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa Lifestreaming setidaknya mengacu kepada dua hal:
- Pada skala kecil, lifestreaming mengacu kepada catatan (log) aktifitas keseharian yang dipublikasikan secara online
- Pada skala yang lebih besar, lifestreaming mengacu kepada pengagregasian (agregasi, sederhananya, bermakna mengumpulkan konten dari berbagai sumber) konten seorang user (dapat berupa blog post, tweet, foto, video, dokumen, slide, dll) yang tersebar di berbagai media sosial kedalam satu stream.
Mengapa lifestreaming?
Saya pribadi tidak pernah terlalu memperhatikan mengenai lifestreaming-thing ini hingga saya menyaksikan episode ke-10 dari NotSoGeeky yang menginterview Steve Rubel, Director of Insight for Edelman Digital. Dalam Interview tersebut Steve mengungkapkan bahwa blogger kini lebih sedikit ngeblog dan lebih banyak mempublikasikan konten dalam bentuk stream – entah dalam bentuk lifestream kecil (sekedar update status di stream twitter / facebook) atau dalam stream besar (aktif di berbagai media sosial yang kemudian diagregasikan ke satu “stream utama” seperti stream facebook yang dapat mengimport konten dari RSS atau layanan media sosial lainnya.)
Beberapa tahun lalu, saat blog masih satu-satunya media untuk mengekspresikan diri secara online, berbondong-bondong orang membuat blog – yang bermakna, IMO, blogging itu sendiri merupakan lifestreaming. Sekarang masyarakat memiliki lebih banyak opsi dalam lifestreaming: melalui microblog, tumbleblog, berbagai media sosial, atau aktif di berbagai media sosial dan lalu diagregasi di “lifestream utama”.
Bagaimana cara membuat lifestreaming?
Seperti yang sudah saya ungkapkan diatas, jika berbicara dalam level konsep, blogging itu sendiri sebenarnya merupakan lifestreaming (stream dengan satuan informasi yang besar dan lebih jarang). Status update di berbagai jejaring sosial juga merupakan lifestream (stream dengan satuan informasi yang pendek dan lebih deras). Jadi jika secara aktif meng-update status atau ngetweet, you already have your own lifestreaming (dalam skala kecil). Tapi jika yang anda cari adalah lifestreaming dalam skala yang lebih besar (mengagregasikan berbagai konten sosial media anda), anda bisa mengikuti berbagai tips ini:
Mengoptimalkan facebook. Setiap media sosial saat ini umumnya sudah memiliki fitur “import to facebook”. Saya menggunakan fitur ini untuk tumblr dan blogpost (menggunakan facebook notes) saya. Setiap kali saya mempublikasikan konten di blog / tumblr, konten tersebut secara otomatis diagregasikan ke facebook.
Menggunakan layanan media sosial lifestreaming alternatif. Terdapat berbagai layanan web yang memfokuskan diri untuk mengagregasi konten personal berbagai media sosial. Let’s say Friendfeed, Soup, dll. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, anda bisa membaca post 5 layanan lifestreaming alternatif yang ditulis Fandy di bloggingly.
Jika anda menginginkan kontrol penuh atas lifestream anda, anda bisa menggunakan lifestreaming CMS yang di host di server anda. Salah satu contohnya adalah sweetcron yang pernah diulas di bloggingly. See sweetcron in action di lifestreamnya Chris Coyier (CSS-Tricks.com) dan Neofreko (NavinoT.com). Jika anda tertarik untuk menggunakan Sweetcron, Chris Coyier sudah menulis tutorial mengenai pemanfaatan Sweetcron di Nettuts.
Sekarang, apa yang anda pikirkan mengenai Lifestreaming? Apakah ada yang saya lewatkan? Silahkan berbagi pemikiran anda melalui kolom komentar
Dapatkan update harian bloggingly GRATIS di RSS Reader anda! Subscribe sekarang RSS FEED BLOGGINGLY !
Apa itu RSS? Kenali RSS di halaman ini
Arham bilang,
Yang steve ruble bilang ituh tentang social search yah.. text namun dalam bentuk live
on 03 May 2010 / 19:15
Fikri bilang,
yep, and what is your analysis?
on 04 May 2010 / 05:27
Tongkonan bilang,
Itu to yang dimaksud livestreaming.
on 05 May 2010 / 01:31
Irwan bilang,
Makasih atas artikelnya bisa nambah wawasan
on 13 May 2010 / 21:18
Mus bilang,
Nah ini mumpung bahas kaitan antara blog dan facebook. Salam kenal mas Fikri. Saya newbie dalam blogging. Ketika saya coba share postingan ke facebook, muncul kalimat :”Warning: This Message Contains Blocked Content.
Some content in this message has been reported as abusive by Facebook users”. Sharing pun gagal. Ada yang bisa bantu saya?
on 20 May 2010 / 12:58
Adhie // DesainQu bilang,
Kayanya saya korban trend ini deh…
Ke depannya, saya rasa trend ini akan terus berlanjut, hanya metodenya aja yang berubah-ubah. Misalnya, suatu hari nanti pengguna Facebook akan beralih ke tumblog ( menggunakan Facebook juga trend kan ). Atau mungkin nanti bakal ada cara baru ber-lifestreming yang lebih fresh dibanding tumblog.
Saya coba utak-utik dulu sweetcron-nya
on 27 May 2010 / 17:54
Fadli bilang,
Oy maz fik. Mo nanya nie. Kebetulan saya udah buat grup di fb, nah supaya terhubung ke blog aku juga gimana caranya nie? Jelasin caranya yang detail ea mas. Maklum, blogger baru
on 03 Jun 2010 / 14:04
berita untuk negri bilang,
kalau saya pakai blogspot…tapi caranya sama kan? maaf saya masih baru sob..
main ke blog saya ya..
salam kenal…
on 14 Jun 2010 / 04:30
Thedoart bilang,
wah! penting banget nih, apalagi bagi seorang desainer grafis, biar ga ketinggalan info!
on 18 Jul 2010 / 15:52