Redesign lagi? Oke, konsistensi sebuah blog dalam design memang sebuah keharusan, karena hal ini terkait dengan aspek branding : Bagaimana blog anda akan di asosiasikan oleh pembaca. Contohnya, TechCrunch yang setia dengan hijau gradasinya.
Lalu bagaimana dengan bloggingly? Mengapa tiap bulan diredesign?
Bloggingly di redesain atas pertimbangan evaluasi. Yep, evaluasi. Untuk menancapkan kesan di benak audience, memang dibutuhkan konsistensi. Tapi kami kira hal ini kondisional. Berlaku dalam kasus kondisi tertentu. Apa kondisi itu? Ketika anda sudah menemukan bentuk yang memang sudah baik. Meskipun kondisi “benar – benar baik” alias sempurna itu idak pernah ada, tapi kami punya pandangan tertentu dalam memandang hal ini : Ketika anda merasa tidak nyaman atas sesuatu dan sesuatu yang tidak nyaman tersebut memang harus dirubah, ya rubah lah. Memang tidak ada hasil kreasi manusia yang sempurna. Yang ada hanyalah hasil kreasi manusia yang menjadi semakin baik karena diperbaiki dan terus diperbaiki.
Kesimpulannya? Rubah hal yang perlu di perbaiki, dan konsisten dengan nilai tambah yang sudah ada. Jadi konsisten berlaku secara kondisonal pada hal yang sudah baik adanya.
Hmm. Lalu, Perubahan apa saja yang bloggingly lakukan? Mengapa harus di rubah?
Well, mari kita bahas :
1.Penggunaan Kombinasi Warna.
Bloggingly sudah memutuskan untuk stay up dengan kombo utama merah – putih – hitam – abu – abu dengan layout yang simple ( mempermudah proses load dan keterbacaan ), dan sudah kami aplikasikan mulai september lalu. Hanya masalahnya, satu kombinasi warna, dengan penataan yang berbeda menghasilkan kesan yang berbeda. Dan kombinasi warna yang lalu kami rasa menciptakan kesan yang tidak tepat. Maka dari itu, kami sesuaikan : Icon yang tadinya hitam menjadi merah. merah yang digunakan juga menjadi lebih flat : kode heksa #cc0000. Lalu font color pun kami buat lebih gelap. Hasilnya? Kami rasa kesan yang sekarang lebih semangat kan?
2. Tata Letak
Yup, kami merasa perlu penataan tata letak yang lebih tepat. Menu akan lebih nyaman dilihat jika dibuat menu bar, form search yang kami rasa “terlalu lebar dengan efek hover yang tidak perlu” disatukan dengan menu bar, lalu icon RSS nampaknya lebih nyaman dilihat jika diletakkan di space tertentu, tidak digabung dengan pernak – pernik sidebar lainnya.
3. Menanggalkan widget yang memang kurang memberikan nilai tambah
Dalam kasus Bloggingly, widget Google Translate. Fokus kami memang publik berbahasa Indonesia, dan rasanya jarang deh pengguna bahasa lain yang menjadikan konten berbahasa Indonesia sebagai rujukan yang dialih bahasakan. Kecuali jika suatu saat bahasa mendunia tentunya.
Sebenarnya Widget Feedjit masuk pertimbangan untuk di remove juga. Namun widget yang satu ini menunjukan pengakses blogingly yang berasal dari berbagai tempat, hingga menimbulkan kesan ramai. Hmm.. bagaimana pendapat anda mengenai feedjit?
4. Menambahkan konten sidebar yang memang perlu diadakan.
To be honest, kami memang berharap dan merencanakan agar suatu saat, bloggingly dapat menjadi sumber pemasukan. Indah sekali jika kita sebagai manusia bisa hidup dari sesuatu yang memang menjadi passion kita. Maka dari itu, kami tambahkan tiga space untuk banner 125 piksel diatas sana. Meskipun belum diisi sih, untuk mendapatkan “Feel” nya saja dulu. Karena untuk monetizing, kami rasa bloggingly masuh perlu meningkatkan kualitas karena traffic masih perlu ditingkatkan. Teringat sabda *halah* pak Nukman Luthfie di PestaBlogger 2008 kemarin : “Ingin menguangkan blog anda? Audit Blog anda! Salah satu syaratnya adalah minimal 1000 unique visitors / day”. Ahaha, siap – siap menuntut ilmu menaikan traffic nih.
5. Mengecilkan width halaman blog
Sedikit teknis, tapi kami rasa penting untuk diketahui.
Dalam web design, salah satu faktor yang di pertimbangkan adalah resolusi layar. Kebanyakan dengan lebar 800 piksel, 1024 piksel dan 1440 piksel. Beberapa sumber tempat saya menimba ilmu web design menganjurkan settingan 800 piksel, agar tidak muncul scroll bar ke samping. COntoh design yang seperti ini adalah the old facebook.
Tapi itu dulu.
Sekarang ini pengguna layar dengan lebar 1024 piksel sudah banyak. Dan kebanyakan design web ( contohnya, new facebook ) ditujukan untuk layar dengan resolusi ini. Dan Bloggingly pun mensetting agar designnya fit dengan layar seperti ini.
Esensinya?
Desain bloggingly membuat konten kami teterlalu fit / pas dengan layar 1024piksel. Dan, kami merasa bahwa 1024 piksel terlalu lebar untuk sebuah halaman web. Terlalu lebar untuk ‘difokusi’ maksdunya. 1024 piksel untuk desain sih tidak masalah, tapi 1024 piksel untuk lebar konten mengurangi kenyamanan membaca. Itu yang kami rasakan, mungkin pendapat anda berbeda. Jika berbeda, mohon sampikan pendapat anda melalui form komentar.
Maka dari itu, sisakan kami menyisakan space di sisi kanan dan kiri. TIdak di ‘fit’kan lagi. sekitar 900 hingga 960 piksel lah.
6. Mem’bahasa’kan Konten dan Navigasi
Audience kami pengguna bahasa Indonesia. Maka dari itu, sudah seharusnya menggunakan bahasa Indonesia sebaik – baiknya. Meskipun belum maksimal sih. Setidaknya, beberapa sudah mulai kami ‘bahasa’kan lah. Masa kalah oleh facebook.
7. Menambahkan Navigasi Tambahan : Take A Tour
Ahaha, agak bernuansa aplikasi web sedikit, meskipun hanya link menuju halaman about.
Yup, 5 poin tersebut yang menjadi landasan redesign kali ini. Bagaimana pendapat anda? Apakah tampilan bloggingly menjadi semakin baik? Atau masih adakah hal yang sebaiknya kami benahi?
Enjoy!
P.S. :
Teringat akan saran Kang Ivan NavinoT untuk mengecilkan tagline. Yup, kini kami kecilkan, namun dengan mengkontraskan warnanya. Dibuat berbeda. Bagaimana nih yang sekarang?
Dapatkan update harian bloggingly GRATIS di RSS Reader anda! Subscribe sekarang RSS FEED BLOGGINGLY !
Apa itu RSS? Kenali RSS di halaman ini